tes

Minggu, 09 Oktober 2016

Pengertian dan Perkembangan Teknologi Digital Cinema

     hallo apa kabar,gan? semoga baik-baik saja. Selamat datang kembali di blog www.dikinuwa.blogspot.com. Pada postingan kali ini, saya akan membahas tentang digital cinema. Apa digital cinema itu?apa bedanya dengan conventional digital?Dan bagaimana perkembangannya?. Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, yuk mari kita membaca sedikit postingan berikut ini!.

Kamis, 16 Juni 2016

Religiusitas, Perilaku Sosial, dan Hubungan antara keduanya

Salam jumpa lagi di blog www.dikinuwa.blogspot.com. Bagaimana kabar anda?Semoga baik-baik saja. Pada postingan kali ini saya akan membahas sekilas tentang Religiusitas, Perilaku Sosial, dan Hubungan Religiusitas dengan Perilaku Sosial . Selamat Membaca !!!

Pengertian Religiusitas

     Dari istilah agama(religi) kemudian muncul apa yang dinamakan religiusitas. Meski berakar kata sama, namun dalam penggunaan istilah religiusitas mempunyai makna yang berbeda dengan religi atau agama. Kalau agama menunjuk pada aspek formal yang berkaitan dengan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban. 
     Tapi, religiusitas menunjuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh individu di dalam hati (Mangunwijaya, 1982). Bagi seorang Muslim, religiusitas dapat diketahui dari seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan atas agama Islam (Fuad Nashori dan Rachmy Diana Mucharam, 2002).
     Hawari (1996) menyebutkan bahwa religiusitas merupakan penghayatan keagamaan dan kedalaman kepercayaan yang diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Religiusitas

Menurut Thouless (1992), ia menjelaskan tentang faktor-faktor yang bisa menghasilkan sikap keagamaan, yaitu :

1. Faktor sosial
     Mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan.

2. Faktor pengalaman

     Berkaitan dengan berbagai jenis pengalaman yang membantu sikap keagamaan.

3. Faktor kebutuhan

     - Kebutuhan-kebutuhan ini secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu :
     - Kebutuhan akan keamanan atau keselamatan,
     - Kebutuhan akan cinta kasih,
     - Kebutuhan untuk memperoleh harga diri, dan
     - Kebutuhan yang timbul karena adanya ancaman kematian.

4. Faktor intelektual

     Berkaitan dengan berbagai proses penalaran verbal atau rasionalisasi. Sikap keagamaan adalah keputusan untuk menerima atau menolak terhadap ajaran suatu agama. Religiusitas adalah apabila keputusan untuk menerima itu membuat individu menginternalisasi ajaran agama tersebut ke dalam dirinya.


Aspek-aspek Religiusitas

     Berdasarkan Kementrian Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia (Subandi, 1988; Widuri, 1995), religiusitas agama Islam dibagi dalam lima aspek yaitu :
     - Religious belief (the ideological dimension) / Aspek Iman menyangkut keyakinan dan hubungan manusia dengan Tuhan, malaikat, para nabi, dan sebagainya.
     - Religious practice (the ritualistic dimension) / Aspek Islam menyangkut frekuensi, intensitas pelaksanaan ibadah yang telah ditetapkan, misalnya sholat, puasa, zakat.                                                    - Religious feeling (the experiental dimension) / Aspek Ihsan menyangkut pengalaman dan perasaan tentang kehadiran Tuhan, takut melanggar larangan dan lain-lain.
     - Religious knowledge (the intellectual dimension) Aspek Ilmu menyangkut pengetahuan seseorang tentang ajaran-ajaran Islam.
     - E. Religious effect (the consequential dimension)Aspek Amal menyangkut tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya menolong orang lain, bekerja, dan sebagainya.



Definisi Perilaku Sosial

     Perilaku sosial adalah perilaku yang terjadi dalam situasi sosial, yakni bagaimana orang berpikir, merasa dan bertindak karena kehadiran orang lain. Dapat diartikan juga sikap dimana kita saling membutuhkan orang lain.

Faktor-Faktor Pembentuk Perilaku Sosial

Baron dan Byrne berpendapat bahwa ada empat kategori utama yang dapat membentuk perilaku sosial seseorang, yaitu :

a. Perilaku dan karakteristik orang lain

      Jika seseorang lebih sering bergaul dengan orang-orang yang memiliki karakter santun, ada kemungkinan besar ia akan berperilaku seperti kebanyakan orang-orang berkarakter santun dalam lingkungan pergaulannya. Pada aspek ini guru memegang peranan penting sebagai sosok yang akan dapat mempengaruhi pembentukan perilaku sosial siswa karena ia akan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam mengarahkan siswa untuk melakukan sesuatu perbuatan.

b. Proses kognitif

      Ingatan dan pikiran yang memuat ide-ide, keyakinan dan pertimbangan yang menjadi dasar kesadaran sosial seseorang akan berpengaruh terhadap perilaku sosialnya. Misalnya seorang calon pelatih yang terus berpikir agar kelak dikemudian hari menjadi pelatih yang baik, menjadi idola bagi atletnya dan orang lain akan terus berupaya dan berproses mengembangkan dan memperbaiki dirinya dalam perilaku sosialnya.

c. Faktor lingkungan

      Lingkungan alam terkadang dapat mempengaruhi perilaku sosial seseorang.

d. Tatar Budaya sebagai tampat perilaku dan pemikiran sosial itu terjadi

     Misalnya, seseorang yang berasal dari etnis budaya tertentu mungkin akan terasa berperilaku sosial aneh ketika berada dalam lingkungan masyarakat yang beretnis budaya lain atau berbeda. Dalam konteks pembelajaran pendidikan jasmani yang terpenting adalah untuk saling menghargai perbedaan yang dimiliki oleh setiap anak.


Hubungan Religiusitas dengan Perilaku Sosial
 
    Berdasarkan Aspek dan faktor religiusitas dan beberapa faktor perilaku sosial di atas maka dapat diambil suatu hubungan(relasi). Yaitu, dalam faktor sosial dan aspek amal, faktor proses kognitif. Jadi, hubungan Religiusitas dan Perilaku Sosial saling mempengaruhi satu sama lain.

     Jika, Religiusitas individu kurang baik, maka individu tersebut memiliki Perilaku sosial yang kurang baik. Namun, bila Individu memiliki Perilaku sosial yang baik maka kemungkinan besar individu tersebut memiliki Religiusitas yang baik. Karena Setiap agama pasti mengajarkan tentang Perilaku Sosial terhadap manusia, tanpa memandang suku, ras, adat, bahkan yang berbeda agam sekalipun. Manusia tidak dapat hidup sendiri.


Kamis, 12 Mei 2016

Tanggung Jawab

     Apa anda yang masih ingat dengan Pepatah "Lempar Batu sembunyi tangan" yang artinya Berani bertindak akan tetapi, tidak berani bertanggung jawab.
 
     Hello, visitors....kali ini dikinuwa.blogspot.com telah mengupload sebuah tulisan tentang tanggung jawab. Sebagai manusia kita harus memiliki tanggung jawab karena tanggung jawab merupakan bagian dari harga diri setiap individu dan manusia hidup dibebani hak dan kewajiban. Sebelum menuntut hak maka kita harus menunaikan kewajiban kita. Dan menunaikan kewajiban dengan benar disebut juga bertanggung jawab.

Selasa, 10 Mei 2016

Koloid

Sistem koloid
     Sistem koloid merupakan suatu bentuk campuran ((sistem dispersi) dua arah atau lebih zat berukuran 1-100nm yang bersifat homogen.


no Jenis Koloid Fase Terdispersi Medium terdispersi Contoh
1 sol Padat Cair Tinta
2 solpadat Padat Padat Kaca berwarna
3 aerosol padat Padat Gas Asap
4 Busa(buih) Gas Cair Buih Sabun
5 busa padat  Gas Padat Batu apung
6 Emulsi Cair Cair susu
7 Emulsi Padat Cair Padat Agar-agar
8 Aerosol cair Cair Gas Kabut

Sifat Koloid dan peranannya
a Efek tyndall dan Gerak Brown
     Efek tyndall adalah peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel koloid. Contoh : Sorot lampu mobil atau senter di udara yang berkabut, Terjadinya warna biru di langit pada siang hari, dan terjadinya warna jingga pada sore hari.
     Gerak Brown adalah gerak acak partikel koloid dalam medium pendispersi.
b. Elektroforesis
     Elektroforesis adalah peristiwa partikel koloid dalam medan listrik. Contoh : pemanfaatan sifat elektroforesis terdapat pada proses penyaringan debu pabrik.
c. Adsorpsi
     Adsorpsi adalah proses penyerapan suatu zat di permukaan zat lain. Contoh : penyembuhan sakit perut dengan norit, penjernihan air dengan tawas, penjernihan air tebu pada pembuatan gula.
d. Koagulasi
     Koagulasi adalah peristiwa pengendapan pertikel-partikel koloid sehingga fase terdispersi.terpisah dari merdium pendispersinya. Contoh : Pengolahan karet dari lateks, pembentukan delta di muara,
proses penggumpalan debu atau asap rokok.
e. Dialisis
     Dialisis adalah cara mengurangi ion-ion pengganggu dalam koloid menggunakan selaput semipermebel. Contoh: memisahkan ion-ion sianida dari tepung tapioka, proses cuci darah.
f. Koloid pelindung
     Koloid pelindung adalah koloid yang dapat melindungi koloid lain agar tidak mengalami koagulasi. Contoh : penambahan kasein pada susu, penambahan lesitin pada margarin, penambahan gelatin pada es krim.

Cara pembuatan koloid 
     Cara kondensasi, yaitu Pembuatan koloid dengan mengubah partikel-partikel larutan sejati yang berupa ion atau molekul menjadi pertikel koloid. Contoh : pembuatan sol AgCl dengan cara mencampur larutan AgNO3 dengan larutan HCl atau NaCl.
     Cara Dispersi, yaitu Pembuatan koloid dari suspensi. Contoh : membuat sol logam dengan cara busur Bredig.

Jumat, 08 April 2016

Etika, Estetika, dan Peradaban



Selamat berjumpa lagi di blog www.dikinuwa.blogspot.com.
Pada kesempatan kali ini saya akan memberitahukan tentang etika, estetika, dan peradaban 

Etika    
     Etika/eti·ka/ /étika/ n ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
     Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.
     Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).
     Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953 – mengutip dari Bertens,2000), etika mempunyai arti sebagai : “ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)”. Sedangkan kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988 – mengutip dari Bertens 2000), mempunyai arti :
1.  ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak);
2. kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
3. nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Etika berkembang menjadi studi tentang kebenaran dan ketidakbenaran berdasarkan kodrat manusia yang diwujudkan melalui kehendak manusia. Berdasarkan perkembangan arti tadi, etika dapat dibedakan antara etika perangai dan etika moral

  • Etika Perangai 
     Etika perangai adalah adat istiadat atau kebiasaan yang menggambaran perangai manusia dalam kehidupan bermasyarakat di aderah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. Etika perangai tersebut diakui dan berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku.
Conto etika perangai:
–         berbusana adat
–         pergaulan muda-mudi
–         perkawinan semenda
–         upacara adat

  • Etika Moral

     Etika moral berkenaan dengan kebiasaan berperilaku yang baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila etika ini dilanggar timbullah kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.
Contoh etika moral:
–         berkata dan berbuat jujur
–         menghargai hak orang lain
–         menghormati orangtua dan guru
–         membela kebenaran dan keadilan
–         menyantuni anak yatim/piatu.
Etika moral ini terwujud dalam bentuk kehendak manusia berdasarkan kesadaran, dan kesadaran adalah suara hati nurani.

MANFAAT ETIKA

  1. Dapat membantu suatu pendirian dalam beragam pandangan dan moral. 
  2. Dapat membantu membedakan mana yang tidak boleh dirubah dan mana yang boleh dirubah, sehingga dalam melayani tamu kita tetap dapat yang layak diterima dan ditolak mengambil sikap yang bisa dipertanggungjawabkan. 
  3. Dapat membantu seseorang mampu menentukan pendapat. 
  4. Dapat menjembatani semua dimensi atau nilai-nilai yang dibawa tamu dan yang telah dianut oleh petugas. 
 Contoh berperilaku Etika:

                             Pak Polisi yang sedang membantu masyarakat di kala banjir melanda






                                          Seorang anak perempuan yang salim kepada orang tua



Estetika
     Estetika/es·te·ti·ka/ /éstétika/ n 1 cabang filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya; 2 kepekaan terhadap seni dan keindahan.
     Istilah estetika berasal dari bahasa latin “aestheticus” atau bahasa Yunani “aestheticos” yang bersumber dari kata “aithe” yang berarti merasa.
     “Estetika dapat didefinisikan sebagai susunan bagian dari sesuatu yang mengandung pola. Pola mana mempersatukan bagian-bagian tersebut yang mengandung keselarasan dari unsur-unsurnya, sehingga menimbulkan keindahan.” (Effendy, 1993).
      Nilai indah tidak semata-mata mengenai bentuk tetapi juga isi atau makna yang dikandungnya. Mengenai hal ini dapat diambil contoh mengenai wanita yang cantik dan wanita yang indah. Wanita cantik hanya menyenangkan dipandang mata sedangkan wanita yang indah adalah wanita cantik, tetapi wanita cantik belum tentu indah. Maksudnya wanita indah bukan hanya bentuknya yang menyenangkan untuk dilihat, tetapi daripadanya timbul banyak hal yang dapat dinikmati dengan perasaan menyenangkan hati.(Kattsoff,1986:381).
      Gambar wanita indah merupakan karya seni karena dapat megungkapkan keindahan wanita tersebut, tapi gambar wanita jelek tidak dapat mengungkapkan keindahan wanita tersebut(bukan karya seni). Jadi, yang indah itu hanya wanitanya bukan gambarnya.

      Sifat-sifat dari keindahan itu sendiri yaitu:
  1. Keindahan itu kebenaran (bukan tiruan)
  2. Keindahan itu abadi ( tidak pernah dilupakan) 
  3. Keindahan itu mempunyai daya tarik (memikat perhatian orang,menyenangkan, dan tidak membosankan)
  4. Keindahan itu universal ( tidak terikat dengan selera perseorangan,waktu dan tempat)
  5. Keindahan itu wajar ( tidak berlebihan dan tidak pula kurang ataumenurut apa adanya)
  6. Keindahan itu kenikmatan ( kesenangan yang memberiakan kepuasan)7.Keindahan itu kebiasaaan ( dilakukan berulang-ulang. Yang tidak biasadan tidak indah namun karena dilakukan berulang-ulang sehinggamenjadi biasa dan indah).
      Menurut salah satu ilmuan Islam terkemuka yaitu Al-faruqi menerangkan keindahan adalah salah satu sifat Allah dan oleh karena itu untuk mencapai keridhoan Allah, manusia dapat menggunakan pendekatan dalam melakukan ibadah kepadanya. Dalam islam nilai atau sifat keindahan yang ditimbulkan haruslah mengekspresikan nilai ibadah, yakni mencari ridho Allah dan memiliki manfaat bagi pembentukan nilai – nilai akhlak atau budi pekerti yang mulia.
      Islam tidak pernah menolak kesenian selama kesenian itu tidak melanggar syariat Islam itu sendiri. Terdapat lima hukum dalam seni. Kelimanya adalah sebagai berikut:
  1. Wajib : Jika suatu kesenian itu sangat diperlukan oleh umat muslim yang mana tanpanya umat Muslim tidak bisa beribadah. Seperti perlengkapan keperluan beribadah di masjid.
  2. Sunat : Jika kesenian itu diperlukan untuk membantu atau menaikkan semangat penyatuan umat Islam seperti dalam nasyid, qasidah dan selawat kepada Rasulullah Saw. 
  3. Makruh : Jika kesenian itu membawa unsur yang sia-sia (lagha) seperti karya seni yang tidak diperlukan oleh manusia. 
  4. Haram : Jika kesenian itu berbentuk hiburan yang:
  • Melalaikan manusia sehingga mengabaikan kewajiban-kewajiban yang berupa tanggung jawab terhadap Allah Swt. Seperti ibadah fardhu ain dan kifayah. 
  • Memberi khayalan kepada manusia sehingga tidak dapat membedakan antara yang hak (benar) dan yang batil (salah). 
  • Di sertai dengan benda-benda haram seperti arak, judi, dadah dan pelbagai kemaksiatan yang lain. 
  • Ada perkumpulan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram seperti pergaulan bebas tanpa batas dalam bentuk dunia hiburan dan lain-lain. 
  • Boneka atau Ptung-patung yang melanggar dari qoridor agama dan lain-lain. 
  • Seni yang merusak akhlak. Seperti tarian terkini (kontemporari). 
  • Jenis-jenis seni yang diperlihatkan tidak berisikan kesombongan.

Macam Ragam Estetika
1. Estetik filsafati (philosophical aesthetics)
     Estetik filsafati adalah estetik yang menelaah sasaran - sasarannya secara filsafati. Estetik filsafati juga seiring disebut dengan estetik tradisionil. Namun ada juga yang menyebutnya sebagai estetik analitis, karena estetik ini untuk membedakan estetik yang empiris atau dipelajari secara ilmiah.

2. Estetik Ilmiah (scientific aesthetics)
     Estetik ilmiah juga sering disebut dengan estetik modern dan tidak lagi merupakan cabang filsafat pada abad 20. Dalam abad ke-19 estetis mengalami perkembangan yang berbeda dari sebelumnya karena pembahasan keindahan secara filsafati sudah dianggap tidak memuaskan karena pengertian keindahan terlalu terbatas dan tidak mencakup seni primitif. Jadi para ilmuwan lebih memilih sasaran yang nyata dalam masyarakat yang dapat dipelajari secara empiris dan ilmiah.

3. Estetik Psikologis (psychilogical aesthetics)
     Seiring dengan berkembangnya zaman, estetika juga dipelajari oleh ahli - ahli psikologi dengan menggunakan metode ilmu - ilmu psikologi. Dengan demikian semakin lama berkembang pengetahuan ilmiah dalam bidang estetik yang menggunakan metode psikologis.

4. Estetik Eksperimentil (experimental aesthetics)
     Estetik eksperimental yaitu estetik berdasarkan penelitian gejala - gejala hayati dengan metode pengukuran, yang biasanya menggunakan metode kuantitatif. Sasaran estetik ini adalah komponen - komponen dasar yang seni yang bisa dicerap dengan panca indra. Penggunaan metode kuantitatif dalam estetik menggunakan pengukuran dan perhitungan untuk menyatakan besarnya nilai keindahan.

5. Estetik Matematis
     Estetik matematis hampir sama halnya dengan estetik eksperimental yang sama - sama menggunakan metode kuantitatif sebagai perhitungannya. Namun, dalam estetik matematis para ilmuwan menggunakan konsep - konsep matematis.

Contoh estetika


 
Peradaban
     peradaban /per·a·dab·an /n 1 kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya; 2 hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa;
     Secara umum, Pengertian Peradaban adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan maju. Sedangkan Pengertian peradaban yang lebih luas adalah kumpulan sebuah identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya maupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subjektif.
    Istilah Peradaban ini sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita pada perkembangan dari kebudayaan dimana pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya yang berwujud unsur-unsur budaya yang halus indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi.
     Manusia yang beradab adalah manusia yang memiliki kesopanan dan berbudi  pekerti. Manusia yang tidak beradab = biadab. Berikut penjelasan mengenai ukuran akhlak, kesopanan dan budi pekerti;

  1. Prof. Dr. Koentjaraningrat, peradaban ialah bagian- bagian kebudayaan yang halus dan indah seperti kesenian. 
  2. Oswald Spengl (1880-1936) Kebudayaan ialah wujud dari seluruh kehidupan adat, industrial filsafat dan sebagainya, peradaban ialah kebudayaan yang sudah tidak tumbuh lagi, sudah mati

Ciri-Ciri Umum Peradaban

     Peradaban tersebut mempunyai ciri-ciri atau juga karakteristik yang berguna dalam memperjelas suatu peradaban serta juga berfungsi didalam membedakan suatu peradaban dan kebudayaan.
Berikut ini adalah Ciri-ciri umum sebuah peradaban antara lain ialah sebagai berikut :
  1. Pembangunan suatu kota-kota baru dengan menggunakan tata ruang yang baik, indah, dan juga modern.
  2. Menggunakan Sistem pemerintahan yang tertib dikarenakan terdapat hukum dan juga peraturan.
  3. Berkembangnya bermacam macam ilmu pengetahuan dan juga teknologi yang lebih maju ialah seperti astronomi, kesehatan, bentuk tulisan, dan lain-lain.
  4. Masyarakat yang lebih kompleks dalam berbagai jenis pekerjaan, keahlian, dan juga strata sosial.
     Masyarakat memiliki  peradaban yang berbeda-beda satu sama lain. Peradaban mengacu pada kehidupan yang nyaman. Indikator peradaban sebagai berikut; 
  1. Organisasi sosial 
  2. Berkebudayaan tinggi 
  3. Cara berkehidupan yang sudah maju.
     Dalam kebudayaan Barat, manusia beradab adalah yang berpendidikan, sopan dan  berbudaya. Ciri penting dalam definisi peradaban adalah berbudaya (cultured), antara lain: melek huruf (lettered). Faktor penting dalam pembentukan kebudayaan:
  1. Religi 
  2. Bahasa 
  3. Seni 
  4. dan ilmu pengetahuan 
Faktor- Faktor Penyebab Perubahan Peradaban  
1. Globalisasi 
2. Konflik sosial 
3. Bencana alam 
4. Perubahan lingkungan alam 
5. Perdagangan 
6. Penyebaran agama 
7. Peperangan


 Contoh peradaban:




                                                                Contoh peradaban Indonesia di masa lalu


Daftar Pustaka :

http://kbbi.web.id/etika
http://www.academia.edu/7687411/Tinjauan-umum-etika
https://af008.wordpress.com/etika-etiket-dan-moral/
http://kbbi.web.id/estetika
http://arti-definisi-pengertian.info/makna-estetika/
Kartika, Dharsono Sony, Estetika, Bandung: Rekayasa Sains, 2007.
Hartoko, Dick. Manusia dan Seni.        1983. Kanisius : Yogyakarta.
Materi Pembelajaran Etika dan Estetika Semester Gasal 2013/2014 -
Leman, Oliver, Estetika Islam Menafsirkan Seni dan Keindahan. Terj. Irfan Abu Bakar (Bnadung: Mizan Pustaka 2005).
http://www.artikelsiana.com/2015/02/pengertian-peradaban-ciri-ciri-para-ahli-peradaban.html
http://historikultur.blogspot.co.id/2015/04/pengertian-peradaban-hubungannya-dengan-budaya-sejarah.html
http://www.academia.edu/6641761/Pengertian_Peradaban
http://www.gurupendidikan.com/pengertian-peradaban-dan-ciri-ciri-peradaban-menurut-para-ahli/